Esai  

Menepis Narasi Miring, Meneguhkan Spirit Pesantren dan Kebangkitan Santri Nusantara

Abdul Gafur Bakri

Kolom Cipta Desa, Situbondo – Beberapa hari terakhir, muncul kembali narasi yang memojokkan dunia pesantren melalui tayangan di salah satu stasiun televisi nasional. Pesantren, yang sejatinya merupakan benteng moral dan pusat peradaban Islam Nusantara, justru digambarkan secara sempit dan tidak proporsional. Padahal, dalam lintasan sejarah bangsa, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi kawah candradimuka lahirnya ulama, pejuang, dan intelektual yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan dengan jiwa keikhlasan.

Kita perlu menegaskan: pesantren bukan masa lalu yang terjebak romantisme tradisi, melainkan ruang sosial yang terus berevolusi. Dari langgar sederhana hingga kampus pesantren modern, dari kitab kuning hingga digitalisasi dakwah—semua menunjukkan bahwa santri dan pesantren mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri. Nilai-nilai tawadhu’, ikhlas, dan ukhuwah tetap menjadi fondasi dalam menghadapi gelombang perubahan sosial.

Tayangan atau narasi yang mengaburkan peran pesantren sejatinya adalah bentuk ketidaktahuan terhadap realitas sosial pesantren itu sendiri. Santri bukanlah generasi terpinggirkan, mereka adalah bagian dari denyut nadi kemajuan bangsa. Di banyak desa, santri justru menjadi penggerak koperasi, pengelola BUMDes, dan pelopor kemandirian ekonomi umat. Mereka membumikan nilai-nilai religius ke dalam tindakan sosial yang konkret: gotong royong, pemberdayaan ekonomi, dan literasi kebangsaan.

Momentum 22 Oktober 2025 – Hari Santri Nasional harus kita maknai sebagai kebangkitan baru santri Nusantara. Santri masa kini bukan hanya ahli kitab, tetapi juga pegiat digital, aktivis sosial, dan motor penggerak pembangunan desa. Mereka tidak tinggal diam dalam menghadapi stigma, melainkan membalasnya dengan karya nyata dan keteladanan.

Sebagai pegiat desa, saya meyakini pesantren memiliki peran strategis dalam membangun kemandirian masyarakat desa. Di era Desa Emas 2045, kolaborasi antara santri dan desa akan menjadi kekuatan besar dalam menciptakan kedaulatan ekonomi berbasis nilai keislaman dan kebangsaan. Santri bukan beban, melainkan aset bangsa yang meneguhkan optimisme: bahwa moralitas dan kemajuan bisa berjalan beriringan.

Mari kita jaga marwah pesantren dengan cara yang bermartabat—bukan dengan kemarahan, tetapi dengan pembuktian. Santri telah membuktikan kontribusinya sejak zaman resolusi jihad hingga kini mengisi ruang pembangunan desa. Maka, ketika ada narasi yang mencoba menafikan peran pesantren, kita jawab dengan kerja nyata dan ketulusan.

Dari bilik-bilik pesantren di pelosok Nusantara, dari desa-desa yang tumbuh bersama semangat gotong royong, suara santri akan terus bergema: Bangkitlah santri, jaga marwah pesantren, dan majukan negeri.

Pesantren adalah benteng moral, laboratorium sosial, dan ruang lahirnya generasi berakhlak. Dari pesantren lahir ulama, pejuang, dan pemimpin bangsa yang berjuang tanpa pamrih. Maka ketika pesantren disudutkan lewat framing yang menyesatkan, masyarakat berhak menyampaikan sikap. Saya secara pribadi mendukung gerakan boikot terhadap Trans7 sebagai bentuk kritik sosial agar media lebih bertanggung jawab dan berimbang dalam menyajikan informasi. Kita tidak sedang menolak kritik, tetapi menolak fitnah. Kita tidak menentang media, tapi menolak manipulasi narasi.

Sebagai pegiat desa, saya percaya kebangkitan bangsa berawal dari moral dan kesadaran kolektif rakyatnya. Maka, mari jaga marwah pesantren dan tegakkan kembali prinsip jurnalisme yang mendidik, mencerahkan, dan menyejukkan.

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *