Gen Z dan Tantangan Dunia Kerja: Saatnya Desa Menjadi Pusat Solusi

Abdul Gafur Bakri (TAMP Situbondo)
Ghafur TAPM Situbondo
TAPM Kabupaten Situbondo, Abdul Gafur Bakri

Kolom Cipta Desa, Situbondo – Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 9,89 juta penduduk usia muda (15–24 tahun) atau generasi Z di Indonesia masih berstatus menganggur atau tanpa kegiatan produktif. Sementara itu, survei dari Bank Indonesia memperkirakan bahwa dalam enam bulan ke depan, situasi dunia kerja akan semakin sulit bagi para pencari kerja baru.

Fenomena ini tentu menjadi perhatian serius. Mengapa kondisi ini bisa terjadi pada generasi yang dikenal paling akrab dengan teknologi dan kreativitas ini?

Pertama, kemajuan teknologi yang pesat justru menjadi pedang bermata dua. Otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) perlahan menggantikan banyak pekerjaan manual. Contohnya, di beberapa restoran cepat saji kini kasir manusia mulai tergantikan oleh self-checkout machine. Hal ini memang efisien, namun berdampak pada berkurangnya kesempatan kerja bagi tenaga manusia.

Kedua, terjadi ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja (supply) dan ketersediaan lapangan pekerjaan (demand). Generasi Z kini mencapai sekitar 74,93 juta jiwa atau 27,94% dari total penduduk Indonesia, namun lapangan kerja baru yang tersedia pada tahun 2024 hanya sekitar 8.867 posisi. Bayangkan betapa ketatnya persaingan untuk satu kursi pekerjaan.

Ketiga, munculnya persepsi negatif dari sebagian pelaku usaha terhadap tenaga kerja Gen Z. Di berbagai media sosial, banyak pengusaha mengeluhkan sikap generasi muda yang dianggap mudah tersinggung, tidak tahan tekanan, dan kurang memiliki loyalitas terhadap pekerjaan. Akibatnya, sebagian pemilik usaha lebih memilih generasi milenial yang dianggap lebih stabil secara emosional dan pengalaman.

Namun, di tengah tantangan tersebut, harapan baru justru bisa lahir dari desa. Melalui penguatan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang kini tengah digencarkan oleh pemerintah pusat, desa memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar wadah simpan pinjam, tetapi juga instrumen pemberdayaan ekonomi produktif di tingkat akar rumput — yang bisa membuka lapangan kerja baru, menumbuhkan wirausaha muda desa, dan memperkuat ekonomi lokal berbasis potensi wilayah.

Generasi Z desa harus mengambil peran dalam gerakan ekonomi ini. Dengan semangat inovatif dan kemampuan digital mereka, Gen Z bisa menjadi motor penggerak transformasi ekonomi desa melalui koperasi dan usaha kolektif.

Mari kita dukung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai langkah nyata menciptakan lapangan kerja baru, menekan angka pengangguran, dan membangun kemandirian ekonomi desa. Karena masa depan ekonomi Indonesia tidak hanya tumbuh dari kota besar, tetapi juga dari desa yang berdaya dan mandiri.

Respon (1)

  1. Semoga para kepala desa dan stacholders terkait bisa membaca dan memahami pesan yang tersirat dalam tulisan yang istimewa ini. Saatnya pemuda bangkit!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *