Oleh: Zainul Arifin/Inunk
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Situbondo
Sebuah perjalanan akan menyusuri jalur legendaris itu kembali pada awal 2026: dari Monumen Nol Kilometer Anyer, merambat melalui kota-kota tua, dan berakhir di sekitar Panarukan. Ini bukan rencana perjalanan biasa. Ini adalah upaya membaca Indonesia melalui sebuah garis luka dan benang sari yang sama: Jalan Raya Pos.
Rute Daendels yang dibangun dengan darah dan perintah ini, dua abad kemudian, hadir bukan sebagai jalur kekuasaan yang selesai, melainkan sebagai palimpsest sejarah. Ia bagai lembaran naskah yang ditulis ulang berulang kali, di mana setiap lapisan tinta mencoba menenggelamkan atau berdialog dengan lapisan di bawahnya. Kita tidak sekadar menelusuri jalan; kita belajar membedah lapisan-lapisannya.
Lapisan Pertama: Jalan sebagai Cetakan Kekuasaan yang Dingin
Pada lapisan paling dasar, tertera cetakan kekuasaan kolonial yang telanjang dan kalkulatif. Jalan Raya Pos adalah proyeksi ruang. Daendels memproyeksikan kehendak dan logika kekuasaannya ke atas tubuh Pulau Jawa, mengubahnya dari wilayah yang organik dan terfragmentasi menjadi sebuah kesatuan teritorial yang bisa diawasi, dikendalikan, dan dieksploitasi dengan efisien. Setiap batu yang ditata, setiap jembatan yang dibangun, bukanlah peradaban; ia adalah manifestasi teritorialisasi dari sebuah sistem yang memandang tanah dan manusia sebagai sumber daya yang harus dimobilisasi. Jalan ini adalah jarum raksasa yang menjahit Jawa menjadi sebuah kantung besar untuk kepentingan Batavia.
Dalam lapisan ini, kita berhadapan dengan kekerasan epistemik paling purba: kekuasaan untuk memberi nama, mengukur, dan menentukan arah. Anyer bukan lagi sebuah pantai dengan mitos dan ritusnya; ia adalah Titik Nol, awal dari sebuah garis abstrak yang disebut “mil”. Ini adalah luka pertama: reduksi ruang hidup yang kompleks menjadi sekadar koordinat dan jarak tempuh.
Lapisan Kedua: Jalan sebagai Alur Hidup yang Membangkang
Namun, tubuh Jawa bukan kanvas pasif. Di atas cetakan paksaan itu, hampir seketika, mulai merayap alur-alur kehidupan yang membangkang. Jalan yang dimaksudkan untuk mempercepat pasukan dan komoditas kolonial dengan segera dibajak oleh arus lain: para pedagang keliling, para santri yang bermigrasi, tukang cerita, pengrajin, dan gelombang manusia dengan agenda mereka sendiri.
Jalan Raya Pos tak sengaja menjadi tungku peleburan identitas terpanjang di Nusantara. Ia bukan pemersatu—kata itu terlalu naif—melainkan pencampur yang tak terhindarkan. Cirebon, Semarang, Lasem: kota-kota ini menjadi simpul bukan karena titah Daendels, tetapi karena di situlah percampuran itu mencapai kepadatan yang melahirkan bentuk budaya baru. Batik Pesisiran, arsitektur Indo, masjid menara, kretek, semuanya adalah anak kandung dari pertemuan paksa di sepanjang koridor ini. Jalan itu memaksa pertemuan, dan dari pertemuan paksa itu lahirlah sintesis yang kreatif dan tak terduga. Lapisan kedua ini adalah jawaban diam-diam atas lapisan pertama: kamu boleh memaksakan garis, tetapi kami yang akan menulis warna dan cerita di atasnya.
Lapisan Ketiga: Jalan sebagai Cermin Ekonomi yang Retak
Lapisan ketiga adalah lapisan ekonomi, dan di sini retaknya paling jelas terlihat. Jalan Raya Pos membelah Jawa menjadi dua sisi: sisi yang diuntungkan oleh arus logistik dan sisi yang tertinggal, terdampak, atau diekstraksi. Ia menciptakan ekonomi yang polar.
Di satu sisi, lahir kantong-kantong kapitalisme kolonial yang rakus: pabrik gula, pelabuhan ekspor, gudang-gudang. Di sisi lain, di desa-desa yang hanya dilewati, berlangsung ekonomi subsisten yang terpinggirkan. Namun, di celah-celah polarisasi ini, tumbuh ekonomi liyan—ekonomi yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika kolonial. Pasar loak, warung lesehan, bengkel gerobak, produksi batik rumahan, dan ribuan transaksi informal lainnya menjadikan badan jalan sebagai ruang hidup. Mereka adalah parasit kreatif pada tubuh infrastruktur kolonial. Mereka menunjukkan bahwa di bawah monolog ekonomi besar, selalu ada dialog ekonomi kecil yang lebih liat, adaptif, dan manusiawi.
Lapisan ini mengajari kita bahwa keadilan tidak pernah datang dari garis lurus yang ditarik dari atas; ia selalu tumbuh dari simpul-simpul rumit yang dirajut dari bawah.
Lapisan Keempat: Jalan sebagai Meditasi tentang Waktu
Inilah lapisan yang coba disentuh oleh perjalanan berkemah dan ziarah spiritual dalam agenda 2026 ini: jalan sebagai meditasi tentang waktu. Dengan berkemah di Puncak Bogor atau di Pantai Lasem, kita melakukan interupsi terhadap logika jalan itu sendiri. Jalan Raya Pos dirancang untuk menaklukkan waktu—memperpendek durasi perjalanan. Dengan sengaja memperlambat diri, berhenti, dan diam, kita melakukan pembalikan: kita menjadikan jalan sebagai alat untuk mengalami waktu, bukan melampauinya.
Air Terjun Madakaripura atau makam-makam tua bukan sekadar objek wisata; mereka adalah portal temporal. Mereka mengingatkan bahwa di balik sejarah kolonial yang linear (1808, 1810, 1811…), ada waktu yang bersifat siklus, mitis, dan spiritual yang tetap hidup dalam kesadaran masyarakat. Perjalanan ini, dengan demikian, adalah upaya untuk tidak hanya membaca ruang, tetapi juga merasakan waktu dalam berbagai ritmenya: waktu eksploitasi yang cepat, waktu budaya yang lambat, dan waktu kontemplasi yang diam.
Lapisan Terakhir: Jalan sebagai Pertanyaan untuk Kini
Lapisan terakhir adalah lapisan yang kita tulis hari ini. Melintasi Jalan Raya Pos di abad ke-21 bukanlah tindakan netral. Itu adalah sebuah pertanyaan hidup yang kita ajukan pada diri sendiri dan pada bangsa: infrastruktur untuk siapa? Pembangunan jalan tol, bandara, dan Kawasan Ekonomi Khusus hari ini adalah anak cucu ideologis dari Jalan Raya Pos.
Apakah kita mengulang logika yang sama: memproyeksikan kekuasaan, mengejar efisiensi dengan mengorbankan yang lemah, dan mereduksi ruang hidup menjadi angka-angka ekonomi? Atau kita belajar dari lapisan-lapisan sebelumnya? Bisakah infrastruktur hari ini dirancang bukan sebagai cetakan kekuasaan, tetapi sebagai wahana untuk memungkinkan pertemuan yang setara, ekonomi yang memuliakan kerja manusia, dan ruang bagi waktu yang kontemplatif?
Perjalanan Anyer-Panarukan 2026, jika dilakukan dengan kesadaran penuh, adalah sebuah praktik hermeneutika—seni menafsirkan teks panjang bernama Indonesia. Setiap kota yang disinggahi, setiap kampung yang dilewati, adalah sebuah kata dalam kalimat yang panjang. Maknanya tidak tunggal. Ia mengandung bekas paksaan, getaran perlawanan, warna percampuran, dan bisikan kerinduan akan keadilan.
Kita berziarah bukan untuk menyembah masa lalu, tetapi untuk mengumpulkan fragmen-fragmen makna dari jalan itu, lalu menyusunnya menjadi sebuah pertanyaan yang lebih tajam untuk masa depan: Jalan macam apa yang ingin kita bangun bersama sekarang? Jawabannya tidak tertulis di aspal, tetapi di dalam pilihan etis kita sebagai bangsa yang sedang berjalan.











