Membaca Narasi Wisata dan Pertarungan Imaji Teritorial

Redaksi
Membaca Narasi Wisata dan Pertarungan Imaji Teritorial

Oleh : Abdul Wahab (Anak Situbondo, tinggal di Nusa Tenggara Timur)

Libur panjang Waisak 2025 menyisakan satu cerita menarik dalam lanskap pariwisata Jawa Timur: pertarungan narasi wisata antara Banyuwangi dan Situbondo. Pertarungan ini berawal dari memanasnya narasi perebutan simbolik atas kawasan Taman Nasional Baluran. Kawasan konservasi yang secara administratif berada di wilayah Situbondo itu, selama beberapa tahun terakhir imaji publik justru lebih menghubungkan kawasan tersebut dengan Banyuwangi.

Pergeseran asosiasi publik ini tentu tak muncul dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh kerja panjang narasi, promosi, dan pembentukan citra destinasi yang dilakukan oleh Banyuwangi secara konsisten. Maka ketika Situbondo mencoba menyuarakan narasi “reclaiming Baluran”, dunia seolah sedang diberi tahu bahwa ada ketimpangan yang selama ini dirasakan, tapi belum direspons secara serius.
Narasi “rebut wilayah wisata” yang mengemuka di sejumlah media menjadi bahan perbincangan hangat. Bukan karena substansinya salah, tapi karena medan kontestasi yang digunakan terasa janggal: ruang media yang justru memperlihatkan jurang antara kerja narasi yang sudah mapan (Banyuwangi) dengan kerja narasi yang masih tertatih (Situbondo).

Wacana reclaiming itu tidak membuat Banyuwangi bergeming, ia tetap konsisten pada kerja narasi dan layanan wisata. Dengan penuh keyakinan, Banyuwangi meresponsnya dengan fakta-fakta konkret: selama libur Waisak, lebih dari 69 ribu wisatawan mengunjungi Banyuwangi, sebagaimana dirilis Kompas.com, Tempo.co, Tribunjatim.com, AntaraNews dan media lainnya. Tidak ada kalimat balasan, tidak ada konfrontasi terbuka, hanya pameran data yang menandakan keunggulan.

Kemenangan narasi pariwisata hari ini bukan ditentukan oleh peta administrasi, tetapi oleh siapa yang mampu menjinakkan persepsi publik. Banyuwangi tak merebut Baluran, tetapi memenangi ruang narasi yang melingkupinya. Melalui jejaring operator tur, katalog digital, narasi YouTube para pelancong, hingga sistem pemetaan Google Maps, destinasi wisata didefinisikan bukan dari siapa pemilik formalnya, tetapi siapa yang menyajikannya sebagai pengalaman berharga. Dan Banyuwangi sudah lama paham itu.

Taman Nasional Baluran memang punya potensi luar biasa: padang savana yang langka, eksotisme satwa liar, dan lanskap tropis kering yang menantang. Namun, potensi tanpa narasi adalah kekosongan. Ketika akses menuju Baluran lebih cepat dari arah Banyuwangi, ketika penginapan lebih mudah dicari di wilayah tetangga, dan ketika wisatawan lebih banyak merangkai paket wisata “Baluran-Ijen-Pulau Merah”, maka batas-batas administratif tak lagi punya daya kuasa.

Situbondo, dalam posisi ini, berada dalam dilema: ingin menegaskan tapal batas, tapi belum menyiapkan ekosistem. Ingin merawat simbol, tapi belum sepenuhnya membangun medium pendukungnya. Wacana reclaiming terasa heroik, namun belum didukung oleh data, promosi, atau narasi tandingan yang sepadan.
Dalam sudut pandang pariwisata kontemporer, keunggulan bukan lagi ditentukan oleh kepemilikan wilayah, melainkan oleh kapasitas merangkai cerita dan menciptakan pengalaman. Banyuwangi menguasai itu: Kawah Ijen, De Djawatan, Pantai Mustika, Pulau Merah, dan Watu Dodol ditautkan dalam jejaring promosi yang lincah, penuh citra visual, dan ramah digital. Bahkan desa-desa wisata pun dirangkul dengan pola branding terpadu.

Bandingkan dengan Situbondo. Saat Banyuwangi merayakan lonjakan wisatawan Waisak, pemberitaan dari Situbondo didominasi oleh kegiatan patroli kepolisian di sejumlah pantai, tanpa menyebut capaian wisata, pergerakan sektor ekonomi, atau testimoni wisatawan. Bukannya menunjukkan daya saing destinasi, media justru menangkap suara kegeraman Bupati yang merasa “kehilangan” aset pariwisata.

Padahal Situbondo tak kekurangan daya Tarik. Perkebunan Kopi Kayumas, Pantai Pasir Putih, Bukit Batu, Gunung Ringgit, Pantai Pathek, Pantai dan Bukit Tampora, Gedung Eks Karesidenan Besuki, dan pesisir Panarukan bisa menjadi kisah kuat. Tetapi, semua itu tak akan mengemuka bila tidak disuarakan.

Sebagai anak Situbondo yang kini tinggal di Nusa Tenggara Timur–wilayah yang juga tengah berjuang membentuk wajah wisata barunya–saya merasakan betul bahwa dunia pariwisata hari ini digerakkan oleh siapa yang mampu berbicara, bukan siapa yang memiliki. Dan berbicara dalam konteks ini berarti menyiapkan strategi: membangun kanal komunikasi, menghidupkan desa wisata, menggandeng komunitas kreatif, membina UMKM, dan menyatukan semua itu dalam narasi yang konsisten.

Cerita libur Waisak ini bukan episode akhir, Situbondo masih punya waktu mengejar ketertinggalan. Wacana reclaiming tak perlu dihentikan, tetapi harus dialihkan menjadi gerakan yang lebih strategis. Reclaming bukan soal mempertegas teritori semata, tetapi upaya serius membangun kapasitas wisata daerah agar mampu tampil di hadapan dunia dengan daya saing yang utuh dan berkelas.
Waisak 2025 telah memperlihatkan dengan gamblang: pertarungan wisata di era ini adalah pertarungan simbolik, pertarungan atas persepsi dan narasi. Banyuwangi unggul karena lebih siap, lebih lincah, lebih konsisten dalam menyusun cerita.

Situbondo jangan hanya jadi “kabupaten yang merasa kehilangan Baluran”. Jadilah kabupaten yang menyusun kembali narasi wisatanya, dengan cara yang lebih segar, lebih kreatif, dan lebih menyentuh. Karena pada akhirnya, pariwisata bukan tentang siapa yang marah, tapi siapa yang mampu mengundang orang untuk bertandang dan jatuh cinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *